Minggu, 14 Oktober 2012

FILSAFAT MODERN DALAM PEMBENTUKANNYA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perkembangan Filsafat dimulai dengan sejarah filsafat barat, yang merupakan filsafat kuna dan terbagi dalam beberapa zaman seperti zaman Filsafat Pra – Sokrates, tokoh pertamanya adalah Thales (+ 625 -545 SM) dikuti dengan tokoh kedua yaitu Anaximandros ( + 610-540 SM) dan ada juga tokoh lain yang bernama Pythagoras (+ 580 – 500SM), Xenophanesa (+ 570-430SM), Herakleitosa (+ 540-475SM), Parmenidesa (+540-475SM), Zeno (490 SM), Empedoklis (492-432 SM), Empedokles (492-432 SM), Anaxagoras (499-420 SM) dan yang terakhir adalah Leukippos dan Demokritos, keduanya yang mengajarkan tentang atom. Akan tetapi yang paling dikenal adalah Demokritos (+ 460-370 SM) sebagai Filsuf Atomik.
Sampai kepada Perkembangan sejarah filsafat yang terkenal dengan para ahli filsafat, seperti kaum sofis dan Sokrates, Protagoras dan ahli sofis yaitu Gorglas yang terkenal diathena. Masih banyak lagi para ahli filsafat dari beberapa periode seperti pada masa Filsafat pada abad Petengahan, filsafat masa peralihan ke zaman modern dan Filsafat Modern. Perkembangan filsafat tersebut adalah merupakan sebagai akar dari fisafat hukum yaitu pada era abad ke 19, dimana filsafat hukum menjadi landasan ilmu-ilmu dibidang hukum, seperti Ilmu Politik, Ilmu Ekonomi, dll. Yang dalam makalah ini kami akan menjelaskan tentang “Filsafat  Modern dalam Pembentukannya”
.

B.    Rumusan Masalah
Setelah membaca makalah ini diharapkan kita akan mengerti sejarah filsafat dan pekembangannya sampai didunia modern ini. Sehingga kita mampu untuk menggali ilmu-ilmu pengetahuan di dunia ini.

C.    Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan kita terhadap ilmu pengetahuan dan sejarahnya sehingga kita bisa menggali ilmu pengetahuan dengan jalur yang benar.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sekilas Tentang Sejarah Filsafat
Dilihat dari pendekatan historis, ilmu filsafat dipahami melalui sejarah perkembangan pemikiran filsafat. Menurut catatan sejarah, filsafat Barat bermula di Yunani. Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar abad VI SM. Perkembangan pemikiran ini menandai usaha manusia untuk mempergunakan akal dalam memahami segala sesuatu. Pemikiran Yunani sebagai embrio filsafat Barat berkembang menjadi titik tolak pemikiran Barat abad pertengahan, modern dan masa berikutnya. Di samping menempatkan filsafat sebagai sumber pengetahuan,
Barat juga menjadikan agama sebagai pedoman hidup, meskipun memang harus diakui bahwa hubungan filsafat dan agama mengalami pasang surut. Pada abad pertengahan misalnya dunia Barat didom inasi oleh dogm atism egereja (agama), tetapi abad modern seakan terjadi pembalasan Akibatnya, Barat mengalami kekeringan spiritualisme. Namun selanjutnya, Barat kembali melirik kepada peranan agama agar kehidupan mereka kembali memiliki makna.
Secara garis besar, perkembangan sejarah filsafat dibagi dalam lima tahap:
1. Filsafat Yunani Kuno
2. Filsafat Yunani
3. Filsafat Abad Pertengahan
4. Filsafat Modern
5. Filsafat Posmodern
6. Filsafat Timur (Arab)

I.    Filsafat Yunani Kuno
Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dim iliki bangsa Yunani Kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan. terhadap agama. Peran agama dimasa modern digantikan ilmu-ilmu positif. Pada masa Yunani kuno, filsafat secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM ).
Demikian juga Phitagoras (572-500 SM ) belum murni rasional. Pada masa Yunani Klasik, pertanyaan-pertanyaan yang berkembang adalah pertanyaan yang berhubungan alam semesta. Ini berangkat dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh, ketika manusia melihat segala sesuatu yang ada di sekeliling mereka, muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai segala sesuatu itu. Begitupun para filsuf zaman Yunani klasik ini. Mereka mempertanyakan hakikat kehidupan ini. Sebagai contoh, Thales, salah seorang filsuf yang hidup pada masa itu, mendapatkan kesimpulan bahwa penyebab pertama kehidupan adalah air karena ia melihat adanya kehidupan ini karena ada air.

II.    Filsafat Yunani
Filsafat zaman Yunani ini diwakili oleh Plato dan Aristoteles. Pada zaman ini, pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan mulai berkembang. Mereka tidak lagi hanya melihat keluar (oustside), akan tetapi juga mulai melihat ke dalam (inside). Persoalan tentang manusia mulai dipertanyakan. Misalnya, apa hakikat manusia? Dari mana manusia berasal? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut lahirlah suatu jaw aban. Salah satunya adalah jawaban yang muncuk dari Plato bahwa hakikat manusia itu terdiri dari tubuh dan jiwa. Secara struktur, jiwa lebih tinggi dari tubuh. Menurut Plato, tubuh menjadi penjara jiwa. Jiwa akan bebas ketika ia lepas dari tubuhnya. Sementara itu, Aristoteles mengatakan hakikat manusia tidak terpisah antara tubuh dan jiwa. Tidak ada yang lebih tinggi secara struktur. Manusia terdiri dari forma dan materi.

III.    Filsafat Abad Pertengahan / Barat (Eropa)
Filsafat abad pertengahan lahirnya agama sebagai kekuatan baru. Banyak filsuf yang lahir dari latar belakang rohaniwan. Dengan lahirnya agama-agama sebagai kekuatan baru, wahyu menjadi otoritas dalam. menentukan kebenaran. Sejak gereja (agama) mendominasi, peranan akal (filsafat) menjadi sangat kecil. Karena, gereja telah membelokkan kreatifitas akal dan mengurangi kemampuannya. Pada saat itu, pendidikan diserahkan pada tokoh-tokoh gereja yang dikenal dengan "The Scholastics", sehingga periode ini disebut dengan masa skolastik. Para filosof aliran skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan filosofisnya. Mereka berupaya memberikan pembenaran apa yang telah diterima dari gereja secara rasional.
Di antara filosof skolastik yang terkenal adalah Augustinus ( 354-430). Menurutnya, dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan, yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dari yang tidak ada (creatioex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa, dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan.
Ciri khas filsafat abad pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus (1033--1109), yaitu credo utintelligam (saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda dengan sifat filsafat rasional yang lebih mendahulukan pengertian dari pada iman.

IV.    Filsafat Modern
Masa filsafat modern diawali dengan munculnya Renaissance sekitar abad XV dan XVI M, yang bermaksud lepas dari dogma-dogma, akhirnya muncul semangat perubahan dalam kerangka berfikir. Problem utama masa Renaissance, sebagaimana periode skolastik, adalah sintesa agama dan filsafat dengan arah yang berbeda. Era Renaissance ditandai dengan tercurahnya perhatian pada berbagai bidang kemanusiaan, baik sebagai individu maupun sosial.
Diantara filosof masa Renaissance adalah Francis Bacon (1561-1626). Ia berpendapat bahwa filsafat harus dipisahkan dari teologi. Meskipun ia meyakini bahwa penalaran dapat menunjukkan Tuhan, tetapi ia menganggap bahwa segala sesuatu yang bercirikan lain dalam teologi hanya dapat diketahui dengan wahyu, sedangkan wahyu sepenuhnya bergantung pada penalaran. Hal ini menunjukkan bahwa Bacon termasuk orang yang membenarkan konsep kebenaran ganda (double truth), yaitu kebenaran akal dan wahyu. Puncak masa Renaissance muncul pada era Rene Descartes (1596-1650) yang dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern dan pelopor aliran Rasionalisme. Argumentasi yang dimajukan bertujuan untuk melepaskan dari kungkungan gereja. Salah satu semboyannya "cogito ergo sum" (saya berpikir maka saya ada). Pernyataan ini sangat terkenal dalam perkembangan pemikiran modern, karena dianggap mengangkat kembali derajat rasio dan pemikiran sebagai indikasi eksistensi setiap individu. Dalam hal ini, filsafat kembali mendapatkan kejayaannya dan mengalahkan peran agama, karena dengan rasio manusia dapat memperoleh kebenaran. Kemudian muncul aliran Empirisme, dengan pelopor utamanya, Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan dan pengenalan berasal dari pengalaman, baik pengalaman batiniah maupun lahiriah. Aliran ini juga menekankan pengenalan inderawi sebagai bentuk pengenalan yang sempurna.
Di tengah bergemanya pemikiran rasionalisme dan empirisme, muncul gagasan baru di Inggris, yang kemudian berkembang ke Perancis dan akhirnya ke Jerman. Masa ini dikenal dengan Aufklarung atau Enlightenment atau masa pencerahan sekitar abad XVIII M. Pada masa Aufklarung ini muncul keinginan manusia modern menyingkap misteri dunia dengan kekuatan akal dan kebebasan berpikir. Tokoh filsuf yang sangat mengagungkan kekuatan akal dan dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern adalah Rene Descartes. Pada abad ini dirumuskan adanya keterpisahan rasio dari agama, akal terlepas dari kungkungan gereja, sehingga Voltaire (1694-1778) menyebutnya sebagai the age of reason (zaman penalaran). Sebagai salah satu konsekuensinya adalah supremasi rasio berkembang pesat yang pada gilirannya mendorong berkem bangnya filsafat dan sains. Periode filsafat modern di Barat menunjukkan adanya pergeseran, segala bentuk dominasi gereja, kependetaan dan anggapan bahwa kitab suci sebagai satu-satunya sumber pengetahuan diporak-porandakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa abad modern merupakan era pembalasan terhadap zaman skolastik yang didominasi gereja.

V.    Posmodernisme
Filsafat postmodern ditandai dengan keinginan untuk mendobrak sifat-sifat filsafat modern yang mengagungkan keuniversalitasan, kebenaran tunggal, dan kebebasnilaian. Karena itu, filsafat postmodern sangat mengagungkan nilai-nilai relativitas dan mininarasi, berbeda dengan filsafat modern yang mengagungkan narasi-narasi besar. Filsafat postmodern cenderung lebih beragam dalam hal pemikirian.
Pada awal abad XX, di Inggris dan Amerika muncul aliran Pragmatisme yang dipelopori oleh William Jam es (1842-1910). Sebenarnya, Pragmatisme awalnya diperkenalkan oleh C.S. Pierce (1839-1914). Menurutnya, kepercayaan menghasilkan kebiasaan, dan berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan kebiasaan yang dihasilkan. Oleh karena itu, kepercayaan adalah aturan bertindak. William James berpendapat bahwa teori adalah alat untuk memecahkan masalah dalam pengalaman hidup m anusia. Karena itu, teori dianggap benar, jika teori berfungsi bagi kehidupan manusia. Sedangkan agama, menurutnya, mempunyai arti sebagai perasaan (feelings), tindakan (acts) dan pengalaman individu manusia ketika mencoba memahami hubungan dan posisinya di hadapan apa yang m ereka anggap suci. Dengan demikian, keagam aan bersifat unik dan membuat individu menyadari bahwa dunia merupakan bagian dari system spiritual yang dengan sendirinya memberi nilai bagi atau kepadanya. Agak berbeda dengan William James, tokoh Pragmatisme lainnya, John Dewey (1859-1952) menyatakan bahwa tugas filsafat yang terpenting adalah memberikan pengarahan pada perbuatan manusia dalam praktek hidup yang harus berpijak pada pengalaman.
Pada saat yang bersamaan, juga berkembang aliran Fenomenologi di Jerman yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Menurutnya, untuk mendapatkan pengetahuan yang benar ialah dengan menggunakan intuisi langsung, karena dapat dijadikan kriteria terakhir dalam filsafat. Baginya, Fenomenologi sebenarnya merupakan teori tentang fenomena; ia mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri. Pada abad tersebut juga lahir aliran Eksistensialisme yang dirintis oleh Soren Kierkegaard (1813-1855) .

VI.    Filsafat Timur (Arab)
Tokoh-tokoh yang termasuk para ahli fikir Islam yaitu Al-Farabi, Ibu Sina, Al-Kindi, Ibnu Rusyd. Peranan para ahli pikir tersebut besar sekali, yaitu sebagai berikut :
a.    Sampai pertengahan abad ke-12 orang-orang barat belum pernah mengenal filsafat Aristoteles.
b.    Orang-orang barat mengenal Aristoteles berkat tulisan dari para ahli fikir islam.
c.    Skolastik Islamlah yang membawakan perkembagan Skolastik Latin.
Dengan demikian, dalam pembahasan skolastik isalam terbagi menjadi dua periode, yaitu :
a)    Periode Mutakallimin (700 – 900)
b)    Periode Filsafat Islam (850 – 1200)
B.    Filsafat Modern dalam Pembentukannya

I.    Sejarah Filsafat Modern
Pada masa abad modern ini berhasil menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan sehingga corak pemikirannya antroposentris, yaitu pemikiran filsafatnya mendasarkan pada akal fikir dan pengalaman. Rene Descartes (1596-1650) sebagai bapak filsafat modern yang berhasil memadukan antara metode ilmu alam dengan ilmu pasti ke dalam pemikiran filsafat. Pada abad ke-18, perkembangan pemikiran filsafat mengarah pada filsafat ilmu pengetahuan. Tokoh-tokohnya antara lain Geoge Berkeley (1685-1753), David Hume (1711-1776), Rousseau (1722-1778). Di Jerman muncul Chirstian Wolft (1679 – 1754) dan Immanuel Kant (1754 – 1804), yang mengupayakan agar filsafat menjadi ilmu pengetahuan yang pasti dan berguna.
Abad ke-19, perkembangan pemikiran filsafat terpecah belah. Ada filsafat Amerika, filsafat Prancis, filsafat Inggris, filsafat Jerman. Tokoh- tokohnya adalah : Hegel (1770-1831), Karl Marx (1818-1883), August Comte (1798-1857), JS. Mill (1806-1873), John Dewey (1858-1952).

II.    Filsafat Abad Dewasa Ini (Filsafat Abad ke-20)
Filsafat Dewasa Ini atau Filsafat Abad Ke-20 juga disebut Filsafat Kontemporer. Ciri khas pemikiran filsafat ini adalah desentralisasi manusia. Dalam bidang bahasa terdapat pokok-pokok masalah, yaitu arti kata-kata dan arti pernyataan-pernyataan. Maka, timbullah filsafat analitika, yang di dalamnya membahas tentang cara mengatur pemakaian kata-kata / istilah-istilah karena baha sebagai objek terpenting dalam pemikiran filsafat, para ahli pikir menyebutnya sebagai logosentris. Para paruh pertama abad ke-20 ini timbul aliran-aliran kefilsafatan, seperti Neo-Thomisme, Neo-Kantianisme, Neo-Hegelianisme, Kritika Ilmu, Historisme, Irasionalisme, Neo-Vitalisme, Spiritualisme, Neo-Positivisme.
Pada Awal belahan akhir abad ke-20 muncul aliran-aliran kefilsafatan yang lebih dapat memberikan corak pemikiran dewasa ini, seperti filsafat Analitik, Filsafat Eksistensi, Strukturalisme, Kritika Sosial.

III.     Masa Peralihan
Pada masa peralihan diisi dengan gerakan kerohanian yang bersiat pembaharuan. Masa peralihan ini ditandai dengan munculnya renaissance, humanisme, dan reformasi yang berlangsung antara abad ke-14 hingga ke-16 .

    Renaissance
Atau kelahiran kembali di Eropa ini merupakan suatu gelombang kebudayaan dan pemikiran yang dimulai di Italia. Di antara tokoh-tokohnya adalah Leonardo da Vinci, Michelangelo, Machiavelli, dan Giordano Bruno.
Krisis zaman pertengahan dimulai pada abad ke-14 hingga abad 15. Pada abad 15 dan 16 dikuasai oleh suatu gerakan yang dikenal dengan Renaisance.
    Renaisance berarti kelahiran kembali. Secara histories Renaisance adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman dimana orang merasa dirinya sebagai orang yang dilahirkan kembali dalam keadaban yaitu kembali kepada sumber-sumber yang murni bagi pengetahuan dan keindahan.
    Pada pertengahan abad ke-14 munculah gerakan pembaharuan dibidang kerohanian, kemasyarakatan, dan kegerejaan yang dilakukan oleh para humanis di Italia.Tujuan geraka ini ialah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup kristiani, yang dilaksanakan dengan mengaitkan hikmat kuno (klasik) dengan wahyu, dan dengan memberi kepastian pada gereja, bahwa sifat pikiran-pikiran klasik itu tidak dapat binasa. Mereka bermaksu mempersatukan kembali gareja yang telah terpecah oleh banyak mashab dan mempertinggi keadaan yang telah diberikan oleh agama Kristen.
    Unsur-unsur Renaisance yang menggarami filsafat adalah: Humanisme, kebangkitan untuk mempelajari sastra klasik dan penyambutan yang dengan semangat atas realitas hidup ini.
    Perbedaan pemikiran filsafati abad pertengahan dan pemikiran filsafati Renaisance adalh sebagai berikut :
    Dalam abad pertengahan filsafat mencurahkan perhatiannya hanya kepada hal-hal yang abstrak dan kepada pengertian-pengertian. Hal-hal yang konkrit dan tampak, terlalu diabaikan.Johanes Duns Scotus menunjukan, bahwa hal-hal yang khusus juga memiliki nilai sendiri. William Ockham menekankan kepada sifat individual realitas ini, itulah sebabnya ia juga telah meneampakan perhatian atas penelitian yang positif.
    Perhatian yang sungguh-sungguh atas hal-hal yang kokritsendiri baru diberikan oleh Renaisance.
    Dapat dikatakan, bahwa pada waktu itu orang menemukan dua hal : dunia dan dirinya sendiri. Pengenalan akan dirinya sendiri yaitu bahwa orang sadar aka nilai pribadinya dan akan kekutan pribadinya itu. Segi negatifnya yaitu, bahwa oleh karena itu manusia merasa bebas terhadap segala kuasa dan tradisi.Para pemikir Renaisance berpendapat, bahwa whyu memiliki wibawa dibidangnya sendiri. Kebanyakan orang cenderung mengenggap, bahwa akal tidak berwibawa ats kebeneran-kebenaran keagamaan. Kebenaran itu haa dapat diercaya. Dibidang filsafat para pemikir berpendapat, bahwa disini tiada sedikitpun ikatan kepada wibawa apapun atau kepada keyakinan bersama. Kebenaran harus dicapai dengan kekuatan sendiri.
    Lambat laun filsafat terasing dari pada agama yang positif.Sekalipun demikian perlu dikemukakan bahwa pada mulanya pengaruh abad pertengahan masih tampak juga.
    Pada zaman Renaisance ada banyak sekali penemuan-penemuan, diataranya :
    NIKOLAUS KOPERNIKUS (1473-1543), seorang tokoh gerejani yag ortodoks, menemukan bahwa matahari berada dipusat jagad raya, dan bahwa bumi mempunyai dua macam gerak, yaitu; perputaran sehari-hari pada porosnya dan paerputaran tahunan mengitari matahari.
    JOHANES KEPLER (1571-1630), orang penting sesudah Kopernikus Ia menerima teori bahwa jagad raya berpusat kepada matahari.
    GALILEO GALILEI (1564-1642), adalah penemu terbesar dibidang pengetahuan.Penemuan tentang pentingnya akselerasi dalm dinamika.Membuat teleskop yangdipakainya untuk menjelajahi jagat raya, dan dengan alatnya itu ia menemukan, bahwa bintang bima sakti terdiri dari bintang-bintang yang banyak sekali bilangannya, yang masing-masing berdiri sendir. Juga ia telah berhasil mengamati Venus sera menemukan beberapa sastelit Yupiter.
    Penemuan Galilei ini menggoncangkan gereja, yang menuntut supaya Galilei menarik kembali ajaran-ajaran itu. Hal ini terjadi pada tahun 1616 secara tersembunyi, dan pada tahun 1632 secara terbuka.
    Pada awal abad ke-17 HUGO DE GROOT (1583-1645), dengan gagasanya tentang hokum internasional.
    NICCOLO MACHIAVELLI (1467-1525),mengemukakan tentang suatu bentuk negara yang otokratis.
    THOMAS MORE (1480-1535), mencita-citakan suatu Negara Utopia, suatu masyarakat agraris, yang berdasarkan keluarga sebagai kesatuan dasariah, yang tidak mengenal hak milik pribadi atau ekonomi uang.
    Pada abad ke-17 FRANCIS BACON (1561-1626), bermaksud meninggalkan ilmu pengetahuan yang lama dan mengusahakan pengetahuan yang baru.Bacon dapat dipandang sebagai orang yang meletakkan dasar-dasar bagi metode induksi yang modern, dan menjadi pelopor dalam usaha mensistimatisir secara logis prosedur ilmiah.
    Menurut Bacon filsafat harus dipisahkan dari pada teologi.Agam yang lama masih diterimanya. Ia berpendapat akal dapat membuktikan adanya Allah.Akan tetapi mengenai hal-hal lain didalam teologi,hal-hal itu hanya dapat dikenal melalui wahyu.
    Bacon menolak sllogisme, sebab dipandang sebagai hal yang tanpa arti didalam ilmu pengetahuan. Sebab syllogismr tidak mengajarkan kebenaran-kebenaran yang baru. Syllogisme hanya bernilai jikalau dilihat dari segi pengajaran.
Metode empiris ini olehBacon dipandang sebagai menunjukkan bagaimana menyusun data-data yang telah diamati, yang memeang diperlukan sekali bagi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus dialaskan pada kepada penyusunan data-data. Kita tidak boleh bersifat seperti lba-laba, yang menyulam segala sesuatu dari benang yang dikeluarkannya sendiri. Kita juga tidak boleh seperti semut, yang hanya mengumpulkannya saja. Kita harus bersifat seperti tawon, yang selain mengumpulkan juga mengatur dan menyusun.
    Demikian Bacon menekankan sekali, bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat diusahakan dengan pengamatan, percobaan-percobaan dan penyusunan fakta-fakta. Sekalipun demikian ia tidak dapat memajukan ilmu pengetahuan, sebab   ia hanya tahu apa yan g  tlah dicapai orang pada zamanna saja. Juga sitimnya yang masih menampakkan hal-hal yang saling bertentangan, umpamanya, bahwa ia menolak prasangka-prasangka. Namun besar juga arti Bacon bagi perkembangan ilmu pengetahuan, yaitu kritik-kritiknya dan pengarahannya, dengannya filsafat di inggris kemudian dipengaruhi sekali. Ia berhasil menunjuk pada pangkal pemikiran bagi pemikiran sintesis pada abad ke-17, yaitu bahwa pikiran orang harus diarahkan kepada dunia ini .

    Humanisme
Humanisme menjadi gerakan untuk kembali melepaskan ikatan dari gereja dan berusaha menemukan kembali sastara Yunani atau Romawi. Di antara para tokohnya adalah Boccaccio, Petrarcus, Lorenco Valllia, Erasmus, dan Thomas Morre.

    Reformasi
Reformasi merupakan revolusi keagamaan di Eropa Barat pada abad ke=16. Para tokohnya antara lain Jean Calvin dan Martin Luther .
   


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan ini maka kita ketahui bahwa sejarah filsafat sangatlah panjang yang pada dasarnya menjelaskan pengertian filsafat yang berasal dari yunani, dimana filsafat timbul karena terdapatnya fenomena-fenomena mengenai alam disebabkan keingin tahuannya para ahli filsafat tentang alam semesta.
Sampai akhirnya diaplikasikan oleh ulama-ulama islam kita sehingga menjadi ilmu yang mudah difaham dan tentunya berguna bagi kemajuan peradaban dunia, yang mana untuk saat ini umat islam sendiri masih kalah dalam penerapannya dengan eropa padahal ilmu tersebut dari pemikiran dan penjabaran ulama kita. 

B.    Saran
Setelah membaca makalah ini marilah kita berusaha untuk mengaplikasikan ilmu kita dan mengajarkannya. Semoga kita dan anak cucu kita dijadikan Allah SWT sebagai umat yang selalu dapat menjaga agama islam dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, aaamiiin.




DAFTAR PUSTAKA

http://www.hendria.com/2010/03/sejarah-filsafat-eropa.html
http://www.scribd.com/doc/21516397/9/Renaissance.
Anonim, (Reinaissance) hlm 11-17.
http://www.ojimori.com/2011/09/02/sejarah-filsafat-hukum-dan-perkembangan/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar